Edukasi Sehat

Dikukus vs Direbus: Mana yang Lebih Sehat untuk Tubuh Anda?

Dikukus vs Direbus: Mana yang Lebih Sehat untuk Tubuh Anda?

Kukus dan rebus sama-sama masak dengan bantuan air, jadi wajar kalau banyak yang mengira hasilnya kurang lebih sama saja. Padahal, dari sisi gizi, dua metode ini bisa memberi hasil yang jauh berbeda.

Apa Bedanya Kukus dan Rebus?

Perbedaannya ada pada kontak bahan makanan dengan air:

  • 💨 Dikukus — bahan makanan dipanaskan oleh uap air, tanpa pernah tercelup langsung ke dalam air.
  • 💧 Direbus — bahan makanan terendam penuh di dalam air mendidih selama proses masak.

Perbedaan sederhana ini ternyata berdampak besar pada seberapa banyak vitamin dan antioksidan yang bertahan di makanan Anda.

Kenapa Cara Masak Memengaruhi Gizi?

Banyak vitamin — terutama vitamin C dan sebagian vitamin B — bersifat larut air (water-soluble) dan sensitif terhadap panas. Saat bahan makanan terendam air mendidih, vitamin-vitamin ini ikut larut keluar ke air rebusan dan biasanya terbuang begitu saja. Mengukus tidak merendam bahan ke dalam air, sehingga nutrisi yang mudah larut lebih banyak tertinggal di dalam makanan.


Perbandingan Berdasarkan Studi Ilmiah

Aspek Gizi Dikukus ✅ Direbus ❌
Retensi vitamin C Bisa bertahan hingga ±89% Bisa tersisa 0% pada beberapa sayur
Aktivitas antioksidan Terjaga, bahkan bisa meningkat Menurun cukup signifikan
Vitamin & mineral larut air Tetap tertahan di bahan makanan Banyak larut & terbuang ke air rebusan
Tekstur & rasa alami Padat, rasa asli lebih terasa Cenderung lembek & lebih hambar

Temuan studi: Penelitian yang membandingkan metode masak pada sayuran menemukan retensi vitamin C setelah dikukus bisa mencapai ±89%, sementara direbus retensinya jauh lebih rendah dan pada beberapa sayuran bisa tersisa 0%. Studi lain juga mencatat bahwa merebus menyebabkan penurunan vitamin C hingga 9,8–70,9% tergantung jenis sayurannya, dan secara konsisten menunjukkan kukus lebih baik menjaga aktivitas antioksidan dibanding rebus.

Sumber Rujukan Ilmiah

  1. Lee, S., Choi, Y., Jeong, H. S., Lee, J., & Sung, J. (2017). Effect of different cooking methods on the content of vitamins and true retention in selected vegetables. Food Science and Biotechnology. Baca di PMC
  2. Kinyi, H. W., Tirwomwe, M., Ninsiima, H. I., & Miruka, C. O. (2022). Effect of Cooking Method on Vitamin C Loses and Antioxidant Activity of Indigenous Green Leafy Vegetables. International Journal of Food Science. Baca di PMC
  3. Razzak, A., Mahjabin, T., Khan, M. R. M., Hossain, M., Sadia, U., & Zzaman, W. (2023). Effect of cooking methods on the nutritional quality of selected vegetables at Sylhet City. Heliyon. Baca di PMC

Lalu, Kenapa Bukan Digoreng Saja?

Kalau bicara gizi, digoreng jelas paling banyak "dosanya" — menambah lemak jenuh dan kalori berlebih ke makanan. Tapi merebus pun bukan pilihan paling ideal karena nutrisi yang larut air ikut terbuang ke dalam air rebusan. Di antara ketiganya, mengukus adalah jalan tengah yang paling menjaga kandungan gizi asli bahan makanan — tanpa minyak, dan tanpa kehilangan nutrisi lewat air rendaman.

Pilihan Makusa: 100% Dikukus

Inilah kenapa Makusa dari awal memilih dikukus, bukan direbus atau digoreng, untuk seluruh menu kami. Jagung madu, ubi, kacang-kacangan, hingga singkong — semuanya diolah dengan uap panas langsung dari bahan segar kebun sendiri di Bogor Barat, tanpa minyak dan tanpa proses rendam air yang menghanyutkan gizinya.

Hasilnya, camilan yang Anda nikmati bukan cuma lezat dan mengenyangkan, tapi juga tetap membawa gizi asli bahan alaminya — dari kebun langsung ke tangan Anda.

Yuk, rasakan bedanya kukusan asli Makusa!


Pesan sekarang dan rasakan bedanya: 🌐 Website: makusa.id 📱 WhatsApp: 082211949979